Komunitas Akademik Dapat Melakukan Hal Ini Untuk Menangkal Peneliti Nakal

Komunitas Akademik Dapat Melakukan Hal Ini Untuk Menangkal Peneliti Nakal

Bulan kemudian, mantan Menteri Studi, Teknologi serta Pembelajaran Besar Indonesia Muhammad Nasir berkata kalau pada 2019, Indonesia sudah mendahului Malaysia serta Singapore dalam jumlah pengumuman objektif.

Tetapi, sebagian akademisi beranggapan kalau ‘daya produksi’ ini merupakan hasil dari sesuatu sistem pengukuran penampilan akademik yang kontroversial. Sistem ini dikira lebih banyak memprioritaskan jumlah pengumuman serta sitasi dibanding studi yang bermutu.

Desain penilaian berplatform output ini sudah menimbulkan banyaknya aplikasi studi yang tidak benar di golongan periset.

Ilustrasinya merupakan praktek ‘informasi dredging’ memaksakan akumulasi dimensi ilustrasi ataupun memalsukan bentuk statistik- untuk menciptakan studi dengan hasil yang meyakinkan anggapan, yang notabene lebih digemari oleh banyak harian objektif.

Sandersan Onie, calon ahli di University of New South Wales, Australia, berkata dalam suatu webinar mengenai kejernihan riset yang diadakan akhir bulan kemudian, kalau praktek-praktek yang tidak jujur semacam ini terus menjadi banyak dicoba sebab banyak periset lebih memprioritaskan kesempatan postingan diterbitkan di harian objektif dibanding ketepatan.

“Dapat saja periset melaksanakan 10 berbagai bentuk statistik, tetapi cuma memberi tahu satu yang nampak sangat membolehkan buat diterbitkan ataupun disitasi. Mereka melaksanakan apa yang diucap selective reporting”, tuturnya.

Lebih dari 1.000 partisipan dari dekat 30 institusi berasosiasi dalam webinar yang bertajuk “Advancing Science in Indonesia: Current Garis besar Research Practices” itu.

Simine Vazire, seseorang guru besar ilmu jiwa di University of California-Davis, Amerika Sindikat, yang ialah salah satu juru bicara di webinar itu, berkata kalau meski terdapat banyak metode buat menaikkan kejernihan, dengan cara biasa ada 3 strategi yang bisa dengan cara langsung menaikkan integritas riset.

Pre-Registrasti Penelitian Yang Dilakukan

Tata cara awal yang dianjurkan oleh Vazire merupakan sesuatu aplikasi yang diketahui dengan sebutan ‘pre-registrasi’, ialah mempersiapkan akta konsep riset yang mempunyai stempel durasi, bertabiat read-only (cuma bisa dibaca, tidak dapat diedit), serta terbuat saat sebelum riset dicoba.

Dalam pre- registrasi itu, seseorang periset wajib menarangkan studi yang beliau agendakan itu saat sebelum mengakulasi informasi. Data yang dicantumkan mulai dari anggapan yang diajukan, sampai bentuk statistik apa yang hendak dijalani buat menganalisa informasi.

Akta itu setelah itu hendak diarsip di dalam sesuatu sistem semacam Open Science Framework (OSF), sesuatu program manajemen studi yang bertabiat open-source.

“Bila kita memperoleh sesuatu hasil riset yang melegakan, kita tidak dapat setelah itu merahasiakan kenyataan kalau kita pula sudah melaksanakan 2 simpati pengukuran lain yang berlainan”, kata Vazire.

“Maksudnya, kita melaporkan komitmen buat berapa hasil ataupun pengobatan yang kita jalani, jauh saat sebelum riset diawali”.

Praktek kedua merupakan dengan mengirimkan apa yang diucap bagaikan informasi teregistrasi (registered reports). Pada intinya, akta ini merupakan wujud yang lebih rinci serta resmi dari pre-registrasi.

Pengarang mengirimkan sesuatu dokumen yang telah disusun terlebih dulu, menarangkan mengenai ilham riset dengan cara terperinci, pada suatu harian buat penilaian langkah dini.

Bila para pengedit menyudahi kalau konsep riset itu penuhi seluruh patokan mereka buat suatu konsep studi yang bagus, mereka hendak membagikan agunan kalau hasil riset hendak diperoleh oleh harian itu, apalagi saat sebelum periset mengakulasi informasi.

Harian hendak mempublikasikan hasil riset itu apapun hasilnya, alhasil integritas akademik terpelihara.

“Yang baik dari registered report merupakan ketetapan pendapatan ataupun antipati pengumuman sesuatu riset tidak didasarkan pada apakah hipotesisnya teruji, apakah hasilnya penting dengan cara statistik ataupun tidak, ataupun apakah hasilnya mengguncang ataupun melegakan ataupun berpotensi memperoleh banyak sitasi”, tutur Vazire.

Kedua praktek pre-registrasi di atas bisa menghindari periset melaksanakan ‘informasi dredging’ ataupun apalagi merumuskan anggapan sehabis hasilnya pergi (HARKing).

Dengan desain itu, bila periset melenceng dari tata cara riset yang sudah disetujui tadinya, mereka wajib membagikan uraian objektif kenapa perihal itu dicoba.

Di sisi itu, registered reports bisa menuntaskan permasalahan lain ialah realitas kalau riset dengan https://www.datasitus.com/situs/legendaqq/ hasil minus mempunyai kesempatan yang lebih kecil buat diterbitkan.

Sementara itu, hasil yang minus pula serupa berartinya buat perkembangan ilmu, tetapi mayoritas harian menganggapnya tidak menarik serta cuma hendak memperoleh sedikit sitasi.

Suatu studi yang dicoba tahun 2019 oleh regu periset dari Cardiff University misalnya, membuktikan kalau dekat 60% informasi riset yang diterbitkan memakai desain registered reports mempunyai hasil minus.

Bandingkan nilai itu dengan ditaksir dari kesusastraan objektif dengan cara biasa dikala ini, di mana cuma dekat 10% dari riset yang diterbitkan di harian mempunyai hasil minus.

Dikala ini, terkini dekat 209 harian objektif di bumi ini yang menawarkan metode registered reports di dalam cara publikasinya, tidak terdapat satupun dari Indonesia. Ini merepresentasikan apalagi kurang dari 0,01% dari 24. 000 kepala karangan harian telaah-sejawat yang diindeks di Scopus.

Rizqy Amelia Zein, dosen ilmu jiwa di Universitas Airlangga yang pula ialah salah satu badan eksekutor webinar itu, setelah kegiatan itu berkata kalau pencetak objektif di Indonesia sedang lumayan terabaikan dalam perihal kejernihan.

“Jurnal-jurnal Indonesia mayoritas mengelola keadaan kosmetik. Tidak sering sekali terdapat yang betul- betul concern dengan mutu. Yang dikejar tidak lain serta tidak bukan merupakan indexing ke Scopus”, tuturnya.

Mendesak Awal Informasi Lewat Brevet Digital

Tata cara terakhir yang dianjurkan oleh Vazire merupakan pemakaian brevet digital oleh harian buat mendesak periset membuka informasi studi mereka.

Ilustrasi terbaik bisa jadi berawal dari Association for Psychological Science. 3 harian bergengsi mereka, tercantum Psychological Science, menawarkan ciri digital buat pengarang serta dokumen yang kirimkan buat menunjukkan kalau mereka sudah melaksanakan praktek- praktek ilmu terbuka.

Ada 3 tipe brevet. Satu diserahkan sebab sediakan informasi studi di dalam sesuatu repositori khalayak, satu buat sediakan material riset leluasa akses, serta satu lagi untuk mereka yang melaksanakan praktek pre-registrasi.

Sesuatu riset dari Amerika Sindikat yang dicoba pada 2016 mengkonfirmasi kalau sehabis diterapkannya lencana-lencana itu, jumlah postingan studi di Psychological Science yang melaksanakan praktek informasi terbuka hadapi kenaikan ekstrem.